Program MAHYANI BAZNAS NTB Mengentaskan Kemiskinan melalui Rumah Layak Huni dan Sanitasi
14/10/2026 | Penulis: Humas BAZNAS NTB
H. Zulkipli, SE., MM. (Wakil Ketua II BAZNAS Provinsi NTB)
Rumah merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas kehidupan keluarga. Di dalam rumah, anak-anak tumbuh, orang tua beristirahat setelah bekerja, dan keluarga membangun harapan untuk masa depan. Ketika tempat tinggal tidak aman, sempit, atau tidak memiliki sanitasi yang memadai, keluarga menghadapi kesulitan yang melampaui persoalan bangunan.
Karena itu, upaya pengentasan kemiskinan perlu menjangkau kondisi tempat tinggal. Keluarga miskin membutuhkan kesempatan untuk menempati rumah yang lebih layak, memiliki fasilitas kebersihan yang memadai, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih bermartabat. Program MAHYANI BAZNAS Provinsi Nusa Tenggara Barat hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui pembangunan rumah layak huni beserta fasilitas mandi, cuci, dan kakus atau MCK.
Pada tahun 2026, Program MAHYANI BAZNAS NTB mencakup pembangunan 300 rumah, dengan prioritas pada wilayah sasaran Program Desa Berdaya Pemerintah Provinsi NTB. Bantuan diarahkan kepada keluarga yang telah melalui survei faktual dan dinilai layak untuk menerima dukungan. Dengan pendekatan ini, pembangunan rumah dihubungkan langsung dengan kebutuhan keluarga dan agenda pengentasan kemiskinan di daerah.
Kondisi rumah sebagai petunjuk kerentanan keluarga
Dalam daftar 14 kriteria rumah tangga miskin yang selama ini dikenal dalam pendataan bantuan, kondisi hunian serta keterbatasan fasilitas dasar menjadi bagian penting untuk diperhatikan. Di antaranya adalah luas lantai tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang; lantai berbahan tanah, bambu, atau kayu berkualitas rendah; serta dinding dari bambu, rumbia, kayu berkualitas rendah, atau tembok tanpa plester.
Keterbatasan lainnya berkaitan dengan sanitasi dan utilitas. Kondisi tersebut meliputi tidak memiliki fasilitas buang air besar sendiri atau masih berbagi dengan rumah tangga lain, penerangan yang belum menggunakan listrik, serta sumber air minum dari sumur atau mata air tidak terlindung, sungai, atau air hujan. Penggunaan kayu bakar, arang, atau minyak tanah sebagai bahan bakar memasak juga termasuk dalam daftar tersebut.
Ciri-ciri itu perlu dibaca bersama keadaan ekonomi dan kebutuhan nyata keluarga. Jenis bahan bangunan atau bahan bakar saja tidak cukup untuk menetapkan seseorang sebagai keluarga miskin. Dalam pengukuran kemiskinan makro, BPS menggunakan pengeluaran per kapita dibandingkan dengan garis kemiskinan. Sementara dalam penentuan bantuan rumah, penilaian lapangan diperlukan untuk memahami kelayakan hunian dan kemampuan keluarga memperbaikinya.
Bagi MAHYANI, perhatian terhadap kondisi rumah menjadi dasar untuk mengenali kebutuhan yang paling mendesak. Keluarga yang tidak mampu memperbaiki lantai, dinding, atap, atau menyediakan fasilitas sanitasi membutuhkan dukungan yang sesuai dengan persoalan tersebut.
Rumah dan MCK sebagai satu kesatuan
Pembangunan rumah perlu berjalan bersama penyediaan MCK. Bangunan yang lebih baik akan memberikan manfaat lebih utuh ketika penghuninya juga memiliki fasilitas untuk menjaga kebersihan dan memenuhi kebutuhan sanitasi sehari-hari.
MCK yang berfungsi membantu keluarga memiliki ruang yang lebih layak untuk mandi, mencuci, dan buang air besar. Karena itu, pelaksanaannya perlu memperhatikan ketersediaan air, saluran pembuangan, serta pengelolaan limbah yang sesuai. Kelengkapan bangunan harus diikuti kepastian bahwa fasilitas tersebut benar-benar dapat digunakan.
Hal serupa berlaku pada rumah. Perbaikan perlu memperhatikan keamanan bangunan, kondisi lantai dan dinding, perlindungan dari cuaca, serta pencahayaan dan sirkulasi udara yang memadai. Setiap pekerjaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan hasil survei dan ketentuan teknis program.
Dengan pendekatan tersebut, MAHYANI dapat membantu memperbaiki kondisi hidup keluarga secara langsung. Rumah memberi perlindungan, sedangkan sanitasi yang memadai mendukung kebersihan dan kenyamanan. Keduanya menjadi bekal dasar bagi keluarga untuk menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih baik.
Survei faktual menjaga ketepatan sasaran
Keterbatasan dana dan banyaknya kebutuhan masyarakat menuntut proses pemilihan penerima yang cermat. Survei faktual menjadi langkah penting untuk memastikan bantuan diberikan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan dan memenuhi ketentuan sebagai penerima.
Survei perlu melihat keadaan bangunan secara langsung, jumlah penghuni, kondisi sanitasi, kemampuan ekonomi, serta kebutuhan perbaikan. Kejelasan status tanah dan rumah juga perlu diperiksa sesuai persyaratan program agar pembangunan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Praktik verifikasi tersebut telah terlihat dalam kolaborasi BAZNAS Provinsi NTB dan BAZNAS Kabupaten Sumbawa Barat. Publikasi resmi BAZNAS NTB mencatat pelaksanaan survei kelayakan calon penerima MAHYANI untuk melihat kondisi riil hunian dan menilai kebutuhan mustahik secara objektif.
Hasil survei harus menjadi dasar keputusan, disertai dokumentasi yang memadai. Dalam pelaksanaan pembangunan, pengawasan mutu dan pemeriksaan hasil pekerjaan perlu dilakukan agar rumah serta MCK yang diserahkan sesuai dengan kebutuhan dan dapat dimanfaatkan oleh keluarga penerima.
Memperkuat Desa Berdaya dari rumah keluarga
Prioritas MAHYANI pada sasaran Desa Berdaya memperkuat hubungan antara pembangunan desa dan perbaikan kehidupan keluarga. Potensi ekonomi desa akan lebih bermakna ketika keluarga paling rentan juga memperoleh dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Sinergi antara BAZNAS, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pendamping perlu membantu menyelaraskan penerima serta jenis dukungan. MAHYANI berfokus pada rumah dan MCK, sementara kebutuhan listrik, air minum, pendidikan, kesehatan, atau penghidupan dapat dihubungkan dengan layanan dan program lain sesuai kewenangan masing-masing.
Pembangunan 300 rumah pada tahun 2026 perlu dilihat sebagai amanah untuk menghadirkan perubahan yang nyata. Ukuran keberhasilannya mencakup rumah yang aman ditempati, MCK yang berfungsi, dan manfaat yang dirasakan keluarga. Pencatatan kondisi sebelum dan sesudah bantuan akan membantu menilai perubahan tersebut.
Perbaikan rumah merupakan bagian penting dari pengentasan kemiskinan, tetapi keluarga tetap membutuhkan dukungan penghidupan agar kesejahteraannya berkelanjutan. Karena itu, MAHYANI perlu ditempatkan dalam sinergi pemberdayaan yang lebih luas.
Melalui Program MAHYANI, amanah zakat, infak, dan sedekah diwujudkan menjadi perlindungan yang dekat dengan kehidupan mustahik. Ketika keluarga dapat menempati rumah yang lebih layak dan menggunakan sanitasi yang memadai, mereka memperoleh dasar kehidupan yang lebih baik. Dari rumah yang aman dan bermartabat itulah harapan untuk keluar dari kemiskinan dapat terus diperkuat.
Artikel Lainnya
Mengapa Ahli Kubur Ingin Kembali ke Dunia Hanya untuk Bersedekah?
Mengubah Tangan di Bawah Menjadi Tangan di Atas: Ikhtiar BAZNAS NTB Mentransformasi Mustahiq Menjadi Mutashaddiq
10 Amalan memasuki bulan Ramadhan
BAZNAS NTB dan Desa Berdaya: Menyentuh Jantung Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Fungsi Satuan Audit Internal dalam Menjaga Prinsip 3A dan Marwah BAZNAS Provinsi NTB
Mengapa Muzaki Harus Berzakat Lewat Lembaga Resmi? Mengubah Rp100 Ribu Menjadi Kekuatan Pemberdayaan
Mengubah Mustahiq Menjadi Mutashaddiq: Menakar Urgensi dan Manfaat Program ZKUP BAZNAS NTB
Khatib di Masjid Baiturrahman Gegutu, Ketua BAZNAS NTB Ajak Jemaah Perkuat Solidaritas Sosial Lewat Zakat
Mengapa Perintah Salat Beriringan dengan Perintah Zakat
Mahyani: Menenun Martabat di Atas Fondasi Desa Berdaya
Program Vokasi BAZNAS Provinsi NTB sebagai Upaya Nyata Zakat Memberdayakan Ummat

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Nusa Tenggara Barat.
Lihat Daftar Rekening →